Biak, HaluanPapua — Aliansi Mahasiswa Nusantara (AMAN) Wilayah Papua menggelar diskusi publik bertajuk “Mendukung Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto: Menimbang Jasa, Menguatkan Nasionalisme” di Seruput Kopi Dangdut, Biak, Jumat (8/11). Kegiatan ini dihadiri puluhan mahasiswa, tokoh pemuda, serta akademisi lokal.
Diskusi yang dikemas dalam nuansa “ngopi kebangsaan” tersebut menjadi ruang refleksi bagi generasi muda Papua untuk menelaah kembali rekam jejak Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar H.M. Soeharto, khususnya dalam konteks pembangunan nasional. Para peserta menilai sejumlah kebijakan Orde Baru masih memiliki dampak signifikan terhadap pembangunan di berbagai sektor, termasuk wilayah timur Indonesia.
Koordinator AMAN Wilayah Papua, Zul Fitri, dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar diskusi sejarah, tetapi upaya memberikan perspektif baru mengenai kontribusi pemimpin nasional.
“Soeharto adalah bagian dari sejarah besar bangsa ini. Beliau membawa stabilitas politik dan kemajuan ekonomi yang menjadi fondasi pembangunan hingga saat ini. Kami menilai, sudah saatnya pemerintah mempertimbangkan pemberian gelar Pahlawan Nasional untuk beliau,” ujar Zul Fitri di hadapan peserta.
Para pembicara dalam diskusi itu turut menyoroti sejumlah program peninggalan Orde Baru, seperti pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan akses pendidikan, dan program kesehatan masyarakat. Menurut mereka, terlepas dari dinamika politik masa lalu, sosok Soeharto tetap memiliki kontribusi besar dalam perjalanan pembangunan negara.
Kegiatan yang berlangsung santai namun substantif tersebut ditutup dengan pembacaan pernyataan sikap resmi AMAN Wilayah Papua. Dalam pernyataan tersebut, AMAN menyatakan dukungan terhadap upaya mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.
“Menghargai jasa pemimpin masa lalu merupakan bagian dari memperkuat semangat kebangsaan generasi masa kini,” tegas Zul Fitri.
Suasana kebersamaan di Seruput Kopi Dangdut menjadi ilustrasi bahwa ruang dialog kebangsaan dapat tumbuh dari tempat sederhana, namun memiliki makna penting bagi dinamika intelektual mahasiswa dan generasi muda Papua. (*)






