Natal di Jila: Ketika Keselamatan Keluarga Menjadi Ujian Kehadiran Negara

- Jurnalis

Jumat, 19 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Louis Fernando Afeanpah, Ketua Cabang GMKI Timika Masa Bakti 2024 - 2026

Louis Fernando Afeanpah, Ketua Cabang GMKI Timika Masa Bakti 2024 - 2026

Oleh : Louis Fernando Afeanpah

Natal kerap dimaknai sebagai kabar sukacita tentang kehadiran Allah di tengah kehidupan manusia. Namun, makna tersebut dirayakan secara berbeda di Distrik Jila, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Di wilayah ini, Natal hadir di tengah situasi yang penuh tantangan. Sejumlah keluarga masih bergumul dengan keterbatasan rasa aman, akses terhadap layanan dasar, serta dampak sosial yang berlangsung berkepanjangan.

Dalam konteks demikian, tema Natal Nasional 2025, “Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga” (Matius 1:21–24), menjadi cermin reflektif bagi semua pihak untuk meninjau kembali bagaimana keselamatan keluarga sungguh dihadirkan dalam kehidupan bersama.

Keluarga merupakan unit paling mendasar dalam struktur sosial masyarakat. Ketika keluarga berada dalam kondisi rentan, dampaknya tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga berpengaruh terhadap keberlanjutan sosial dalam jangka panjang. Situasi di Jila memperlihatkan tantangan serius bagi ketahanan keluarga. Anak-anak tumbuh dalam suasana ketidakpastian, sementara orang tua berjuang mempertahankan kehidupan dengan sumber daya yang terbatas. Kondisi ini tidak semestinya dipahami sebagai persoalan kelompok tertentu semata, melainkan sebagai persoalan bersama yang menuntut perhatian lintas sektor.

Tema Natal Nasional 2025, sebagaimana ditegaskan oleh PGI, dipilih sebagai respons atas berbagai tantangan yang dihadapi keluarga Indonesia saat ini. Ketua Umum PGI, Pdt. Jacky Frits Manuputty, menekankan bahwa gereja dipanggil untuk hadir dan mendampingi keluarga-keluarga yang berada dalam situasi rentan melalui tindakan nyata yang berkeadilan. Pesan ini relevan tidak hanya bagi gereja, tetapi juga bagi seluruh elemen bangsa, termasuk para pengambil kebijakan, bahwa keberpihakan terhadap kelompok rentan merupakan bagian integral dari tanggung jawab publik.

Dalam perspektif kebijakan, pesan inkarnasi yang diwartakan melalui perayaan Natal dapat dimaknai sebagai dorongan untuk menghadirkan negara secara lebih dekat dengan warganya. Pendekatan kebijakan yang sensitif terhadap aspek kemanusiaan diharapkan mampu membangun rasa aman sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat. Stabilitas memang penting, namun perlu diimbangi dengan langkah-langkah yang sungguh memperhatikan pemenuhan kebutuhan dasar serta pemulihan sosial keluarga.

Sejumlah langkah kebijakan patut dipertimbangkan secara terbuka. Pertama, penguatan perlindungan sipil dan keselamatan warga melalui pendekatan yang berbasis hak asasi manusia. Kedua, peningkatan akses terhadap bantuan kemanusiaan dan layanan dasar, termasuk kesehatan, pendidikan, serta dukungan psikososial.

Ketiga, pelibatan masyarakat adat dan institusi lokal dalam perencanaan serta pelaksanaan program agar kebijakan lebih kontekstual. Keempat, penguatan transparansi dan akuntabilitas dalam penanganan situasi kemanusiaan. Kelima, perumusan strategi pemulihan jangka panjang yang mendukung ketahanan ekonomi keluarga.

Pada akhirnya, Natal mengajak semua pihak untuk memaknai keselamatan sebagai sebuah proses yang membutuhkan komitmen bersama. Ketika tema Natal menegaskan kehadiran Allah untuk menyelamatkan keluarga, pesan tersebut dapat dibaca sebagai dorongan moral agar kebijakan publik semakin berpihak pada perlindungan kehidupan. Selama keluarga-keluarga di Jila masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian, refleksi Natal perlu terus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang memperkuat keadilan dan kemanusiaan. (*)

Penulis adalah Ketua Cabang GMKI Timika

(Opini adalah pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Haluan Papua. Keseluruhan konten menjadi tanggungjawab penulis)

Berita Terkait

Perkuat Akses Pendidikan Papua Tengah, Soedeson Tandra Kucurkan PIP untuk Ratusan Siswa Mimika
Aksi Pemalangan Sekolah Hentikan Aktivitas Belajar, Kepala Kampung Nawaripi Sebut Premanisme
Pemerintah Kampung Nawaripi Gelar Musdus, RT 19 Ajukan Usulan Prioritas
Akses Terbatas di Pedalaman Mimika, Freeport Terbangkan 90 Ton Kebutuhan Natal Warga di Dataran Tinggi
GKI Ebenhaezer Timika Gelar Ibadah Malam Kudus Natal, Refleksi Penggenapan Janji Allah
Ketika Jalan Berlubang Dibiarkan, Warga Otomona Terpaksa Bertindak
Natal di Mimika Dimulai dari Kampung Nawaripi
Pemkam Nawaripi Hadir untuk Warga, BLT Dana Desa Tahap II Disalurkan ke 45 KPM

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:49 WIT

Perkuat Akses Pendidikan Papua Tengah, Soedeson Tandra Kucurkan PIP untuk Ratusan Siswa Mimika

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:01 WIT

Aksi Pemalangan Sekolah Hentikan Aktivitas Belajar, Kepala Kampung Nawaripi Sebut Premanisme

Senin, 12 Januari 2026 - 18:04 WIT

Pemerintah Kampung Nawaripi Gelar Musdus, RT 19 Ajukan Usulan Prioritas

Selasa, 30 Desember 2025 - 12:28 WIT

Akses Terbatas di Pedalaman Mimika, Freeport Terbangkan 90 Ton Kebutuhan Natal Warga di Dataran Tinggi

Senin, 22 Desember 2025 - 13:40 WIT

Ketika Jalan Berlubang Dibiarkan, Warga Otomona Terpaksa Bertindak

Berita Terbaru