Timika, HaluanPapua – Saat pusat Kota Timika nyaris tanpa penanda Natal dan pemerintah daerah dinilai belum menghadirkan suasana hari raya umat Kristiani di ruang publik, inisiatif justru lahir dari bawah. Kampung Nawaripi bergerak, sementara warga kota memilih turun tangan sendiri.
Pemerintah Kampung Nawaripi menata wajah kampung dengan memasang ornamen Natal di gapura kampung. Lampu-lampu hias menyala, menghadirkan suasana Natal yang hangat dan terasa di tengah kampung, sementara ruang-ruang publik kota masih minim sentuhan perayaan.
Penataan kampung tersebut dikawal langsung oleh pemerintah kampung bersama para pemuda. Gotong royong menjadi pesan utama, perayaan Natal bukan soal fasilitas, melainkan soal kepedulian dan keberpihakan.
Kepala Kampung Nawaripi, Norman Ditubun, menegaskan bahwa pemasangan ornamen Natal bukan sekadar menindaklanjuti Surat Edaran Pemerintah Kabupaten Mimika. Menurutnya, program ini telah lama menjadi agenda rutin desa setiap perayaan hari besar keagamaan.
“Ini sudah menjadi program kerja kami. Surat edaran Pemda hanya kami terjemahkan dalam tindakan. Kampung tidak menunggu ramai dulu baru bergerak,” ujar Norman, Minggu (21/12).
Ia menambahkan, penataan ornamen Natal di Nawaripi bukan sekadar simbol perayaan, tetapi bentuk tanggung jawab sosial kampung untuk menghadirkan suasana kebatinan umat Kristiani sekaligus memperindah wajah Mimika.
Langkah Kampung Nawaripi ini menyoroti ironi di pusat kota. Di saat kampung mampu bergerak dengan sumber daya terbatas, wajah Kota Timika justru tampak sunyi dari nuansa Natal. Namun Pemkam Nawaripi merupakan Pemerintah yang rendah mendahului sesuai instruksi Bupati Mimika.
Norman juga mendorong pelaku usaha di wilayah Kampung Nawaripi untuk ikut memasang ornamen Natal sebagai wujud penghormatan terhadap keberagaman agama, suku, dan ras yang hidup berdampingan. Namun ia mengingatkan agar perayaan tetap dijaga dalam suasana aman dan bermartabat, dengan menjauhi minuman keras serta menjaga ketertiban lingkungan.
Dari Kampung Nawaripi, pesan itu disampaikan tanpa slogan dan tanpa sindiran berlebihan, ketika kota masih menunggu, kampung memilih menyalakan cahaya Natal lebih dulu. (*)






