Gen Z dan Politik Kebijaksanaan: Belajar dari Ibn Sina

- Jurnalis

Senin, 15 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peserta LK III HMI Badko Papua Barat - Papua Barat Daya

Peserta LK III HMI Badko Papua Barat - Papua Barat Daya

Oleh : Muhammad Amin

Generasi Z (Gen Z) adalah kelompok generasi yang lahir pada rentang 1997–2012. Berdasarkan data Sensus Penduduk 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah Gen Z di Indonesia mencapai sekitar 74,93 juta jiwa atau setara dengan 27,94 persen dari total populasi nasional. Angka ini menempatkan Gen Z sebagai generasi terbesar di Indonesia, bahkan melampaui generasi milenial.

Gen Z kerap dilekatkan dengan sebutan generasi internet. Mereka tumbuh dalam derasnya arus informasi, ruang kebebasan berekspresi yang luas, serta iklim politik yang semakin terbuka. Dengan komposisi populasi yang sangat besar, Gen Z secara objektif menjadi kekuatan politik strategis dan berpotensi menentukan arah masa depan demokrasi dan kehidupan berbangsa ke depan.

Namun, besarnya jumlah tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kedewasaan berpolitik. Di balik peluang besar yang dimiliki, wajah politik hari ini justru kerap dipenuhi kegaduhan, konflik identitas, ujaran kebencian, serta polarisasi ekstrem yang menguras energi anak muda. Dalam situasi semacam ini, Gen Z membutuhkan rujukan nilai, pemikiran, dan tawaran platform etik yang mampu menjadi kompas dalam berpolitik—agar mereka tumbuh sebagai generasi yang tangguh, rasional, dan berorientasi pada kebaikan bersama.

Salah satu pelajaran penting dapat dipetik dari tokoh pemikir Islam klasik, Ibn Sina. Bagi Ibn Sina, politik tidak semata-mata berkaitan dengan negara, kekuasaan, dan jabatan. Politik, dalam pandangannya, adalah proses bertingkat yang dimulai dari pengelolaan diri, lalu keluarga, masyarakat, hingga negara. Seseorang yang gagal mengendalikan nafsu, amarah, dan ambisi pribadinya tidak akan mampu mengelola urusan publik secara adil dan bijaksana.

Ibn Sina (Avicenna, 980–1037 M) dikenal sebagai filsuf, dokter, dan ilmuwan besar Persia yang hidup di tengah situasi politik Islam yang tidak stabil. Karya-karyanya yang monumental, seperti Al-Qanun fi al-Tibb dan Al-Shifa, menjadikannya tokoh penting dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dalam ranah politik, pemikiran Ibn Sina berakar kuat pada etika, akhlak, dan peran nabi sebagai pemimpin moral. Ia memandang negara ideal hanya dapat berdiri kokoh jika ditopang oleh pendidikan akhlak dan moralitas warganya. Meski tidak banyak membahas praktik politik secara teknis, kontribusinya terhadap filsafat politik Islam tetap sangat signifikan.

Pemikiran politik Ibn Sina dapat dipetakan secara komprehensif melalui dua karyanya, yakni Kitab al-Siyasah dan Kitab al-Shifa. Kitab al-Siyasah berfokus pada ranah mikro-politik—yakni panduan dasar dalam mengelola diri dan rumah tangga—sementara Kitab al-Shifa membahas ranah makro-politik yang berkaitan dengan pengelolaan negara.

Mikro-Politik dalam Kitab al-Siyasah

Dalam Kitab al-Siyasah, Ibn Sina menekankan bahwa politik pada level paling dasar adalah pengaturan internal diri dan rumah tangga. Setiap individu, apa pun posisinya, adalah pemimpin atas dirinya sendiri dan atas ruang kecil yang berada dalam tanggung jawabnya. Politik, dalam pengertian ini, merupakan instrumen untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial yang berawal dari disiplin diri, kebijaksanaan berpikir, serta akhlak yang baik.

Pesan ini terasa sangat relevan bagi Gen Z. Di satu sisi, anak muda dikenal kritis dan berani menyuarakan pendapat. Namun, di sisi lain, keberanian tersebut kerap dibarengi luapan emosi, sikap reaktif, dan kecenderungan saling meniadakan di ruang digital. Ibn Sina mengingatkan bahwa akal harus memimpin emosi, bukan sebaliknya. Politik yang digerakkan oleh kemarahan semata hanya akan melahirkan kegaduhan, bukan perubahan yang berkelanjutan.

Lebih jauh, Ibn Sina menempatkan keluarga dan lingkungan terdekat sebagai ruang politik pertama. Cara seseorang berdialog, menghormati perbedaan, dan mengelola konflik di ruang kecil akan tercermin dalam sikap politiknya di ruang publik yang lebih luas. Negara, dalam pandangannya, tidak lain adalah cerminan kualitas moral warganya. Jika budaya kebencian dan saling merendahkan dinormalisasi sejak dini, maka ia akan menjelma menjadi watak politik nasional.

Makro-Politik dalam Kitab al-Syifa

Sementara itu, dalam Kitab al-Shifa, Ibn Sina membahas makro-politik yang berkaitan dengan pengelolaan negara dan penetapan hukum demi terwujudnya keadilan serta kebahagiaan masyarakat secara menyeluruh. Pada level ini, ia menekankan pentingnya hukum, rasionalitas, dan sikap jalan tengah (wasathiyyah).

Ajaran ini menjadi pelajaran penting bagi Gen Z yang kerap terjebak pada dua kutub ekstrem: apatisme politik atau aktivisme yang emosional dan tidak terkelola. Kritik terhadap kekuasaan tetap diperlukan, tetapi harus berangkat dari data, argumentasi rasional, dan orientasi pada solusi, agar tidak berubah menjadi anarki digital yang destruktif.

Pada akhirnya, tantangan utama Gen Z bukanlah kekurangan keberanian, melainkan pendalaman kebijaksanaan. Jika Gen Z mampu memadukan keberanian moral dengan rasionalitas politik sebagaimana diajarkan Ibn Sina, maka mereka tidak hanya menjadi generasi yang lantang di linimasa, tetapi juga generasi yang benar-benar berkontribusi dalam membentuk arah dan masa depan negara. (*)

Penulis adalah Kader HMI Cabang Mimika

(Opini adalah pendapat atau gagasan penulis yang dikirim ke Redaksi Haluan Papua. Keseluruhan konten menjadi tanggungjawab penulis)

Berita Terkait

Perkuat Akses Pendidikan Papua Tengah, Soedeson Tandra Kucurkan PIP untuk Ratusan Siswa Mimika
Pidana Mati Bersyarat di KUHP Baru Dinilai Ancam Kepastian Hukum, Advokat Soroti Norma Multitafsir
Aksi Pemalangan Sekolah Hentikan Aktivitas Belajar, Kepala Kampung Nawaripi Sebut Premanisme
Pemerintah Kampung Nawaripi Gelar Musdus, RT 19 Ajukan Usulan Prioritas
Akses Terbatas di Pedalaman Mimika, Freeport Terbangkan 90 Ton Kebutuhan Natal Warga di Dataran Tinggi
GKI Ebenhaezer Timika Gelar Ibadah Malam Kudus Natal, Refleksi Penggenapan Janji Allah
GMKI Biak Nilai Pilkades Serentak di Biak Numfor Kurang Efektif, Soroti Lemahnya Pengawasan
Ketika Jalan Berlubang Dibiarkan, Warga Otomona Terpaksa Bertindak

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 15:49 WIT

Perkuat Akses Pendidikan Papua Tengah, Soedeson Tandra Kucurkan PIP untuk Ratusan Siswa Mimika

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:01 WIT

Pidana Mati Bersyarat di KUHP Baru Dinilai Ancam Kepastian Hukum, Advokat Soroti Norma Multitafsir

Rabu, 14 Januari 2026 - 13:01 WIT

Aksi Pemalangan Sekolah Hentikan Aktivitas Belajar, Kepala Kampung Nawaripi Sebut Premanisme

Senin, 12 Januari 2026 - 18:04 WIT

Pemerintah Kampung Nawaripi Gelar Musdus, RT 19 Ajukan Usulan Prioritas

Selasa, 30 Desember 2025 - 12:28 WIT

Akses Terbatas di Pedalaman Mimika, Freeport Terbangkan 90 Ton Kebutuhan Natal Warga di Dataran Tinggi

Berita Terbaru